Jakarta Banjir, Ulah Siapa?

Apa yang terpikirkan di benakmu saat mendengar kata banjir? Apakah kotor, sampah, dan hujan?

Di Indonesia sendiri, banjir nampaknya bukan menjadi masalah baru bagi warga Indonesia. Hampir seluruh provinsi pernah mengalami peristiwa ini. Utamanya bagi Jakarta, si langganan banjir. Dilansir dari Merdeka.com, peristiwa banjir besar terkahir kali terjadi bulan Januari hingga Februari pada tahun 2013.

Dari bencana tersebut terdapat 20 orang meninggal dan 33.500 orang mengungsi. Air yang menggenangi kawasan Sudirman, termasuk Bundaran Hotel Indonesia (HI) disebabkan oleh tanggul Kali Cipinang yang mengalami kebocoran. Hal ini lantas melumpuhkan ibukota dalam waktu yang cukup lama. Dan baru-baru ini di bulan Juni, persitiwa banjir juga dialami oleh warga Ciliwung. Peristiwa ini mengakibatkan sejumlah wilayah di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur tergenang banjir.

Berbicara tentang wilayah tergenang banjir, kami mau mengajak anda untuk melihat peristiwa banjir pada empat tahun lalu. Setelah menelusuri ke berbagai situs, kami menemukan dataset mengenai titik banjir perkecamatan di DKI Jakarta dari tahun 2014 hingga 2016. Pemilihan rentang waktu antara 2014 hingga 2016 disebabkan karena belum tersedianya update data untuk dua tahun terakhir.

IMG_20180701_212402

Jika dilihat dari tabel di atas, pada tahun 2014 di temukan ada 107 titik banjir dan setahun setelahnya, jumlah ini menurun menjadi 74, dan kembali meningkat cukup drastis menjadi 156. Banyaknya jumlah titik banjir mengisyaratkan bahwa persoalan banjir dari tahun 2014 hingga 2016 masih belum menemukan titik terang.

Sekarang mari kita lihat bersama, salah satu faktor penyebab belum adanya titik terang, yakni sampah. Sampah sering dicap sebagai penyebab banjir. Namun apakah benar seperti itu?

Berbicara mengenai sampah, kami mewawancarai pihak dari Waste4Change, yakni kewirausahaan sosial yang bergerak dalam bidang pengelolaan sampah untuk mengetahui bagaimana kondisi ‘persampahan’ di DKI Jakarta. Diketahui dalam tur yang diadakan Waste4Change ke Bantargebang, bahwa di tahun 2017, jumlah sampah yang masuk ke Bantargebang bisa mencapai 7.200 ton per hari. Jika dihitung, kira-kira dalam sebulan, jumlah sampah mencapai 216.000 ton. Dengan begini dalam setahun, volume sampah yang masuk dari seluruh wilayah Jakarta dan Kepulauan Seribu menuju Bantargebang mencapai 2.592.000 ton.

Dan jika kita lihat melalui dataset yang ditemukan, jumlah sampah dalam empat tahun terakhir cukup mengherankan. Dari grafik di bawah ini, data volume sampah pada tahun 2014 mencapai 1.977.467 ton dan kemudian meningkat menjadi 2.342.988 ton. Namun di tahun 2016, data jumlah tersebut turun menjadi 7.197 ton.

IMG_20180701_212939

Lalu jika dihitung lebih rinci, jumlah sampah di DKI Jakarta tahun 2014 per harinya menyentuh angka 5.417,72 ton dan untuk tahun 2015, naik menjadi 6.419,15 ton per hari. Namun yang mengherankan adalah pada tahun 2016, penurunan jumlah sampah terjadi begitu drastis dan jika dihitung hanya mencapai 19,72 ton per hari. Sedangkan dalam wawancara bersama Chairul Ruskandi, divisi Strategic dalam bidang riset Waste4Change, jumlah sampah yang mereka olah meningkat tiap tahunnya.

“Sejak akhir 2014, sampah yang di Waste4Change terus bertambah secara bertahap, sampai saat ini kami sudah mengelola sampah 5 ton per hari.”

Namun jika dilihat dan dibandingkan secara keseluruhan hingga tahun 2017, ini membuktikan bahwa jumlah tonase sampah tetap tingga meski sempat mengalami penurunan. Lalu bagaimana dengan curah hujan sendiri?

Selain faktor sampah, ada juga hal lain yang diduga menjadi faktor penyebab banjir, yaitu curah hujan. Curah hujan yang tinggi menjadikan suatu daerah yang di guyur hujan tersebut cepat untuk tergenang air. Menurut data BMKG mengenai Kriteria Intensitas Curah Hujan, kategori curah hujan yang dapat dikatakan ‘Lebat’ yakni memiliki intensitas berkisar 10-20 mm/jam atau 50-100 mm/hari, sedangkan yang dapat dikatakan ‘Sangat Lebat’ yakni memiliki intensitas curah hujan >20 mm/jam atau 100 mm/hari.

Setelah mencari, kami mendapatkan data curah hujan tahun 2011-2014. Rentang tahun ini dipakai mengingat belum tersedianya data hingga 2018. Setelah didapatkannya data, perhitungan dilakukan untuk mencari curah hujan per hari untuk masing-masing tahun. Sebagai contoh, di bawah ini merupakan pemaparan cara perolehan curah hujan per hari dengan menggunakan data curah hujan tahun 2011.

IMG_20180701_212504

Untuk mendapatkan data curah hujan per hari, terlebih dulu kita membagi data Curah Hujan dengan Banyak Hari yang diguyur hujan untuk mendapatkan hasil dari masing-masing bulan. Setelah didapatkan hasil Curah Hujan per Hari di tiap bulan, kini yang perlu dicari adalah Rata-rata Curah Hujan per Hari dalam satu tahun itu (2011). Cara mendapatkan hasilnya dengan cara merata-rata seluruh data Curah Hujan per Hari. Dari sini didapati tahun 2011, rata-rata curah hujan per hari mencapai angka 9 dari pembulatan 8,921201292.

Proses penghitungan juga dilakukan hingga data tahun 2014. Maka, hasil yang didapat untuk curah hujan tahun 2012 yakni 16mm/hari, tahun 2013 yakni 13mm/hari, dan 2014 yakni mencapai 14mm/hari.

IMG_20180701_212919.jpg

Jadi dari hasil temuan mengenai sampah dan curah hujan. Diketahui bahwa penyebab dari adanya banjir untuk empat hingga tujuh tahun belakangan ini banyak diakibatkan oleh sampah. Mengapa bukan karena curah hujan?

Sebab, dari data tersebut, jumlah curah hujan yang diperoleh masuk dalam kategori Ringan. Dimana kategori yang dapat dikatakan Ringan memiliki kriteria curah hujan 1-5 mm/jam atau 5-20 mm/hari dan untuk kategori Sedang memiliki kriteria curah hujan 5-10 mm/jam atau 20-50 mm/hari. Disatu sisi, data curah hujan di tahun tersebut sifatnya masih naik turun, berbeda dengan sampah yang cenderung signifikan mengalami kenaikan.

Curah hujan bisa menjadi salah satu penyebabnya, namun hal ini juga terjadi akibat berbagai faktor seperti, daya tampung waduk yang kecil, hilangnya resapan air, atau tempat arus air yang mengalami pendangkalan akibat sampah atau adanya pemukiman. Seperti Kenny Chandra, salah satu waga Jl. Mangga X, Jakarta Barat yang rumahnya sering terkena banjir. Ia mengatakan bahwa saluran air di rumahnya sering tersumbat akibat adanya sampah.

“Rata – rata yang menjadi penyumbat saluran air sampah plastik.”

Ia menuturkan bahwa jika terjadi banjir, air baru akan surut sekitar lima hari.

Maka dengan begini dapat kita lihat bahwa Pemprov DKI belum bekerja dengan maksimal soal penanganan sampah.

Sesungguhnya persoalan sampah sendiri bisa diatasi dengan pengolahan sampah yang baik. Menurut Irul, permasalahan utama sampah terdapat di sumber sampah yang tidak dilakukan pemilahan. Bila sampah tercampur, akan menyulitkan untuk diproses daur ulang.

Pengolahan sampah yang baik adalah dari sumber sampah itu sendiri, yang tak lain berasal dari masyarakat. Definisi masyarakat bukan hanya dari anggota keluarga di rumah, tetapi juga pedagang di pasar, pengelola kawasan komersial atau pemilik bisnis (contohnya perusahaan, apartemen, industri, perkantoran).

Pemilahan sampah organik dan anorganik adalah tindakan paling minim dalam menjalankan pengolahan sampah yang baik. Bahkan bagi mereka pengelola kawasan yang dinilai memiliki uang lebih, maupun tidak seperti lingkungan RT/RW akan lebih baik apabila mereka dapat membangun tempat pengolahan sampah sendiri.

Dengan begini, volume sampah di pembuangan akhir maupun yang tercecer di jalan dapat berkurang dengan adanya zero waste di masing-masing wilayah.

Dengan begini selain dapat memperpendek rute pembuangan, Pemprov DKI Jakarta juga tidak perlu mengeluarkan banyak anggaran dalam pengolahan sampah.

Lalu bagaimana jika banjir tetap terjadi?

Banjir tidak hanya berdampak pada materi yang merugi, namun juga berdampak pada jiwa sesorang. Berikut adalah data jiwa terdampak banjir di tahun 2014-2016.

IMG_20180701_212610

Selain itu, banjir juga berdampak pada kesehatan. Banyak orang mengatakan bahwa Diare dan DBD disebabkan oleh banjir, apakah memang benar begitu? Sebelumnya mari lihat data kasus diare dan DBD di bawah ini.

IMG_20180701_212717

Berdasarakan data yang telah kami cari, kasus diare terbesar di Jakarta terjadi pada tahun 2014. Bila dibandingkan dengan tahun 2015 dan 2016, kasus diare ditahun 2014 mencakup 80% dari seluruh presentase kasus diare yang terjadi di Jakarta.

IMG_20180701_212741

Dibanding diare, jumlah kasus DBD nampaknya lebih sedikit. Berdasarkan hasil yang kami dapatkan jumlah penderita Demam Berdarah terbanyak ada di tahun 2016 dengan 33.317 kasus. Sedangkan di tahun 2014 dan 2015 hanya mencapai 18.461 dan 11.987 kasus.

Menurut Dr. Angela seorang dokter umum yang bertugas di Klinik Siloam Gading Serpong, banjir yang terjadi di ibu kota memang dapat menyebabkan wabah penyakit Demam Berdarah (DBD), diare, leptospirosis, dan demam tifoid atau tifus. Namun menurutnya, banjir bukanlah penyebab utama dari timbulnya penyakit-panyakit ini, melainkah hanya sarana dimana virus menyebar.

“Kalau ada banjir, banyak tuh yang muncul di berita kasus DBD meningkat, kasus diare meningkat, terus misalnya tifus itu meningkat, itu akan ada di berita memang, tapi banjir itu bukan sebagai penyebab utama, dia hanya jadi sarananya yang bikin kenapa penyakit-penyakit itu muncul.”

Faktor utama seseorang terjangkit diare di antaranya Hand Hygiene yang buruk dan adanya luka pada tubuh. Virus penyebab diare yang dibawa oleh banjir akan lebih riskan apabila genangan air menyentuh luka pada tubuh.

“Semua penyakit yang gara-gara bakteri itu akan lebih riskan kalau ada luka, abis kena nih, nempel, trus kita pegang pake tangan, abis itu kita ngambil makanan nah itu baru riskan karena kesalahan sendiri. Tapi kalau nyamuk ya mau gamau itu uda resiko karena kan nyamuk,” Ujarnya.

Sedangkan untuk DBD, penyebab utamanya adalah bakteri atau virus yang dibawa oleh banjir itu sendiri. Genangan banjir yang terlalu lama akan menjadi sarang nyamuk untuk bertelur, telur-telur nyamuk yang membawa virus dengue inilah penyebab dari munculnya penyakit demam berdarah.

Jadi, diare dan DBD bukan disebabkan oleh banjir, melainkan bersumber dari sampah dan hand hygiene yang salah. Banjir merupakan sarana pembawa penyakit, bukan yang penyebab timbulnya suatu penyakit. Memang adanya banjir akan meningkatkan penyakit tertentu seperti demam berdarah dan diare, namun itu semua dapat dicegah dengan hand hygiene yang baik. Maka dari itu, perlu adanya kesadaran dari kita sebagai warga negara untuk peduli terhadap apa yang kita buang untuk membantu persoalan yang belum menemukan titik terang ini.

Penulis :

Yashinta Mulya Sari – 00000008623
Eveline M Wiharta – 00000008510
Stephanie florentia – 00000010795
Amanda Puspa Ningsih – 00000010996

[UAS Data Interactive Jurnalisme – 1 juli 2018]

Advertisements